
««•»»
Surah Ar Ruum 18
وَلَهُ الحَمدُ فِي السَّماواتِ وَالأَرضِ وَعَشِيًّا وَحينَ تُظهِرونَ
««•»»
walahu alhamdu fii alssamaawaati waal-ardhi wa'asyiyyan wahiina tuzhhiruuna
««•»»
Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur
{1168}.
{1168} Maksud bertasbih dalam ayat 17 ialah bersembahyang. ayat-ayat 17 dan 18 menerangkan tentang waktu sembahyang yang lima.
««•»»
To Him belongs all praise in the heavens and the earth, at nightfall and when you enter noontime.
««•»»
Dalam
kedua ayat ini Allah memberi petunjuk kepada kaum mukmin untuk
melepaskan mereka dari azab neraka dan memasukkau mereka ke dalam surga,
yaitu dengan mensucikan-Nya dari segala sifat yang tidak layak.
bagi-Nya, memuji dan memuja-Nya serta menyebut nama-Nya dengan segala
sifat-sifat yang baik dan terpuji. Seakan-akan Allah SWT berkata: Jika
kamu telah mengetahui dengan pasti nasib kedua golongan itu, maka
sucikanlah Dia di waktu malam dan siang, di waktu petang dan pagi. Puji
dan sucikanlah Tuhanmu dalam setiap waktu itu dengan hal-hal yang sesuai
bagi-Nya.
Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud dengan
tasbih (mensucikan Tuhan) di sini, ialah salat lima waktu diwajibkan
kepada kaum Muslimin. Lalu orang bertanya: "Dan lafaz apakah dipahamkan
salat yang lima waktu itu?. Jawabnya ialah perkataan: "Maka bertasbihlah
kepada Allah di waktu kamu berada di malam hari, maksudnya ialah salat
Magrib dan Isyak". Perkataan: "dan di waktu kamu berada di waktu Subuh",
maksudnya salat subuh. Perkataan: "dan di waktu kamu berada pada petang
hari", maksudnya ialah salat Asar. Dan perkataan: "dan di waktu kamu
berada di waktu Zuhur". yaitu salat Zuhur.
Tetapi Pahhak, Said
bin Jabir, Ibnu Abbas dan Qatadah berpendapat bahwa kedua ayat tersebut
di atas hanya merupakan isyarat akan empat salat yaitu salat mahrib,
subuh. asar dan zuhur. Sedangkan salat isya' (yang terakhir) tersebut
pada ayat yang lain,
Allah berfirman:
وزلفا من الليل
Dan pada bagian permulaan dari pada malam.
(QS. Huud [11]:114)
Dan waktu mendirikan salat Isya' ini juga terdapat dalam ayat lain, yang menyebutkan waktu-waktu terlarang (waktu-waktu salat).
Allah SWT berfirman:
ومن بعد صلاة العشاء
Dan sesudah salat Isya.
(QS. An Nuur [24]:58)
An-Nahhas
seorang ahli tafsir juga berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut di atas
berkenaan dengan salat-salat yang lima. Beliau menunjang pendapat Ali
bin Sulaiman yang berkata bahwa ayat itu ialah bertasbih kepada Allah
SWT dalam salat, sebab tasbih itu ada dalam salat-salat tersebut.
Marudi
juga berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tasbih ialah salat. Adapun
mengenai penamaan salat dengan tasbih berasal dari dua segi. Pertama
karena dalam salat disebutkan tasbih itu berasal dari kata "sabhah" yang
berarti salat.
Nabi bersabda:
تكون لهم سبحة يوم القيامة
Bagi mereka ada salat pada hari kiamat.
(Tafsir Qurtubi Jilid 14 hal. 15)
Iman
Razi berpendapat bahwa tasbih itu berarti "penyucian". Arti yang
diberikan beliau ini adalah lebih kuat dan lebih utama, sebab dalam
penyucian itu termasuk salat. Penyucian yang disuruh ialah:
- Pensucian hati, yaitu iktikad yang teguh.
- Penyucian lidah beserta hati, yaitu mengatakan yang baik-baik.
- Penyucian anggota tubuh beserta hati dan lidah , yaitu mengerjakan yang baik-baik (amal saleh).
Penyucian
pertama di atas ialah pokok, sedang yang kedua adalah hasil yang
pertama, dan ketiga adalah hasil dari yang kedua. Sebab seorang manusia
mempunyai iktikad yang baik yang timbul dari hatinya, hal itu tercermin
dari tutur yang baik yang timbul dari hatinya, hal itu tercermin dari
tutur katanya. Apabila dia berkata maka kebenaran perkataannya itu akan
jelas dalam tingkah laku dan segala perbuatannya. Lidah adalah
terjemahan dari hati. dan perbuatan anggota tubuh terjemahan pula dari
hati, dan perbuatan anggota tubuh merupakan terjemahan pula dari apa
yang telah dikatakan lisan. Tetapi salat adalah perbuatan anggota tubuh
yang paling baik, termasuk dalamnya menyebut Tuhan dengan lisan, dan
niat dengan hati, dan itulah pembersihan yang sebetulnya. Apabila Tuhan
berkata agar Dia disucikan (atau dibersihkan) maka wajib bagi kaum
Muslimin untuk melaksanakan segala yang dianggap pantas untuk
membersihkannya.
Suruhan menyucikan Allah SWT itu tak lain dari pada suruhan melaksanakan salat.
Pendapat
ini sesuai dengan tafsir ayat 15 di atas. Sebab Allah SWT menerangkan
bahwa kedudukan yang tinggi dan pahala yang paling sempurna akan
diperoleh orang-orang yang beriman dan beramal saleh.
Allah SWT berfirman:
فأما الذين آمنوا وعملوا الصالحات فهم في روضة يحبرون
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira.
(QS. Ar Ruum [30]:15)
Dalam
ayat ini Allah SWT berkata: Apabila telah diketahui bahwa surga itu
suatu temapt bagi orang-orang yang beramal saleh, maka sucikanlah Tuhan
itu dengan iman yang baik dalam hati dan Esakanlah Dia dengan lisan dan
beramal salehlah dengan mempergunakan anggota tubuh. Semuanya itu
merupakan penyucian dan pemujian. Bertasbihlah kepada Allah SWT agar
kegembiraan di surga dan kesenangan yang dicita-citakan itu dapat
tercapai.
Ayat "Dan bagi-Nya lah segala puji di langit dan di
bumi", adalah kalimat sisipan. Sedangkan sambungan ayat ini merupakan
kalanjutan ayat 17 tersebut di atas. Kalimat sisipan itu terletak di
antara suruhan agar manusia bertasbih kepada Allah SWT pada waktu-waktu
yang ditentukan itu adalah sebagai penegasan bagi manusia bahwa mereka
bukan satu-satunya makhluk yang bertasbih kepada Allah, tetapi semua
makhluk yang ada di langit dan di bumi juga bertasbih dengan memuji-Nya.
Hal ini jelas kelihatan dari ayat berikut ini:
وإن من شيء إلا يسبح بحمده ولكن لا تفقهون تسبيحهم
Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.
(QS. Al Isra' [17]:44)
Lagi
pula dengan adanya kalimat sisipan seakan-akan Tuhan berkata kepada
manusia: "Terangkanlah kepada mereka bahwa tasbih mereka itu kepada
Allah adalah untuk kemanfaatan mereka seadiri, bukan untuk Allah
kemanfaatannya. Karena itu wajiblah atas mereka memuji Allah SWT di kala
mereka bertasbih kepada-Nya".
Hat ini telah difirmankan Allah seperti tersebut dalam ayat berikut ini:
يمنون عليك أن أسلموا قل لا تمنوا عليّ إسلامكم بل الله يمن عليكم أن هداكم للإيمان
Mereka
merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka.
Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan
keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu
dengan menunjuki kamu kepada keimanan".
(QS. Al Hujuurat [49]:17)
Para
ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa maksud kalimat "Bagi-Nya segala
puji "lahul hamd" ialah salat bagi-Nya Allah SWT. Dan ada pula yang
berpendapat bahwa pujian-pujian bagi Allah itu adalah satu cara untuk
meng Agungkan Allah SWT dan mendorong manusia untuk beribadat
kepada-Nya, karena abadinya nikmat-Nya kepada manusia.
Dalam
kedua ayat ini, diutamakan menyebut waktu-waktu yang demikian ialah
karena timbul tanda-tanda kekuasaan, keagungan dan rahmat Allah pada
waktu-waktu tersebut itu. Kemudian malam didahulukan menyebutnya dari
pagi, karena menurut kalender Qamariah, malam dan kegelapan itu lebih
dahulu dari pagi. Permulaan tanggal itu dimulai setelah terbenam
matahari. Demikian pula halnya berkenaan dengan petang dan zuhur, yakni
petang lebih dahulu terjadinya dari zuhur menurut kalender Qamariyah
itu.
Selanjutnya soal kebaikan dalam ayat-ayat tersebut di atas,
ada beberapa hadis yang mengatakan tentang kelebihan yang terkandung
dalam kedua ayat tersebut.
Pertama ialah:
قال
رسول الله صلى الله عليه وسلم: ألا أخبركم لِمَ سَمَّى الله تعالى إبراهيم
خليله وفيٌّ لأنه يقول كلما أصبح وأمسى فسبحان الله حين تمسون وحين تصبحون
وله الحمد في السموات والأرض وعشيا وحين تظهرون.
Rasulullah
saw telah bersabda.
"Inginkah kamu aku beritakan kepadamu: "Kenapa
Allah SWT menamakan Ibrahim as sebagai Khalil-Nya (teman-NYa) yang
setia?. Ialah karena ia membaca di waktu pagi dan petang, bertasbihlah
kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari di waktu subuh. Dan
bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada
pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur".
(HR. Imam
Ahmad dan Ibnu Jarir)
Seterusnya Nabi bersabda:
من
قال حين يصبح: سبحان الله حين تمسون وحين تصبحون إلى قوله تعالى: وكذلك
تخرجون. أدرك ما فاته في يومه. ومن قال حين يمسي أدرك ما فاته من ليلته.
Siapa yang mengatakan di waktu pagi:
سبحان الله
hingga firman Tuhan
وكذلك تخرجون
maka
dia akan mendapatkan pahala dari apa yang tidak dapat dikerjakannya
pada siang hari itu. Dan siapa yang mengatakan di waktu petang, maka ia
akan mendapatkan pahala dari yang tidak dapat dikerjakan di waktu
malamnya.
(HR. Abu Daud dan Tabrani)
Dari kedua hadis tersebut
di atas dapat diambil kesimpulan betapa pentingnya ayat-ayat 17 -18 di
atas untuk dicamkan dan diamalkan oleh kaum Muslimin.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi) kalimat ayat ini merupakan jumlah i`tiradh, maksudnya Dia dipuji oleh penduduk langit dan bumi (dan di waktu kalian berada pada petang hari) diathafkan kepada lafal hiina yang ada pada ayat sebelumnya; di dalam waktu ini terdapat salat Isyak (dan sewaktu kalian berada di waktu Zuhur) yakni di waktu kalian memasuki tengah hari, yang pada waktu itu terdapat salat Zuhur.
««•»»
And to Him belongs [all] praise in the heavens and the earth — a parenthetical statement, in other words, the inhabitants in both of these [realms] praise Him — and as the sun declines (wa-‘ashiyyan is a supplement to hīna, ‘when’ [of the previous verse]), in which comes the afternoon prayer (‘asr), and when you enter noontime, in which comes the midday prayer (zuhr).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»