Jumat, 07 Agustus 2015

[030] Ar Ruum Ayat 020

««•»»
[030] Ar Ruum Ayat 020
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 19][AYAT 21]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
20of60
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=30&tAyahNo=20&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#30:20

[030] Ar Ruum Ayat 019

««•»»
Surah Ar Ruum 19

يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرَجُونَ
««•»»
yukhriju alhayya mina almayyiti wayukhriju almayyita mina alhayyi wayuhyii al-ardha ba'da mawtihaa wakadzaalika tukhrajuuna
««•»»
Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).
««•»»
He brings forth the living from the dead, and brings forth the dead from the living, and revives the earth after its death. Likewise you [too] shall be raised [from the dead].
««•»»

Ayat ini merupakan pemandangan umum yang menyingkapkan sebagian kekuasaan Allah SWT, yang menyeru hamba-hamba-Nya agar bertasbih dan beribadat kepada-Nya. Orang yang bertasbih kepada Allah hanya sekadar bertasbih dan menyembah-Nya tanpa mengetahui hak-hak dan kekuasaan serta kebesaran Allah SWT dalam beribadah itu, maka tasbih dan ibadahnya itu tidak akan ada manfaatnya. Dia tidak akan menjumpai Tuhan dengan tasbih dan ibadat yang seperti itu, suatu perjumpaan yang akan melapangkan dada, membukakan hati dan menjernihkan jiwa, Ibadat yang disuruh ialah ibadat yang berbekas dalam jiwa manusia.

Oleh karena itu maka ayat ini menyuruh kita memperhatikan keadaan alam ini. Di dalamnya terdapat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Pada apa yang dilihat manusia pada kehidupan ini, dapat diperhatikan bahwa kehidupan ini berasal dari benda mati, dan benda mati itu berasal dari kehidupan. Hal ini dapat diperhatikan pada telur dan ayam. Telur adalah benda mati, tapi ia dapat mengeluarkan ayam yang hidup. Begitu pulalah ayam adalah benda hidup, tetapi dia dapat mengeluarkan telur yang merupakan benda mati. Atau pada diri manusia dapat dilihat dua kejadian itu. Manusia adalah makhluk yang mengeluarkan mani (sperma) sebagai benda mati (menurut kepercayaan Arab di waktu itu). Sebaliknya mani itu dapat menjadi manusia bila dia berjumpa dengan telur wanita di dalam rahim.

Mujahid seorang ahli tafsir mengartikan "keluarnya yang hidup dari yang mati" dan "yang mati dari yang hidup" dengan mukmin dan kafir. Anak orang mukmin ada yang menjadi kafir, sebaliknya anak orang kafir ada yang menjadi mukmin, Ada pula yang menafsirkan bahwa kehidupan ini diakhiri dengan kematian dan kematian itu disudahi dengan kehidupan kembali di akhirat.

Karena kedua hal itu, yakni mati dan hidup suatu keadaan yang rutin di dalam kehidupan di dunia ini, maka tidaklah mustahil bagi Allah untuk membangkitkan manusia dari kuburnya di hari kiamat kelak. Hal ini harus diperhatikan oleh manusia. Sebagai contoh lain yang lebih dekat bagi manusia ialah keadaan tanah yang sudah tandus dan gersang. Tanah ini biasa menumbuhkan tanam-tanaman, andaikata Allah menurunkan hujan dari langit.

Setelah memperhatikan contoh-contoh di atas, maka apakah kekuasaan Allah yang tidak terhatas itu kelak tidak-sanggup untuk menghidupkan manusia kembali dari dalam tanah, di mana tulang-belulangnya telah hancur berserakan, dan dagingnya telah bersatu dengan tanah?. Tentu saja sanggup. Oleh karena itu, bila sangkakala ditiup malaikat, manusia akan bangkit semuanya kembali di padang Mahsyar menghadap Tuhan.

Allah berfirman:
والله أنبتكم من الأرض نباتا ثم يعيدكم فيها ويخرجكم إخراجا
Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya. Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (dari padanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.
(QS. Nuh [71]:17-18)

Kenapa manusia mengingkari hari berbangkit itu?. Kenapa mereka memperdebatkannya?. Sebetulnya kekuasaan Allah tak perlu dan tak dapat diingkari. Siapa yang berakal tidak akan dapat mengingkari kekuasaan itu. Tetapi dia lari dari tanggung jawab. Manusia tak mau bertanggung jawab, untuk menghadapi perhitungan di hari kiamat. Dia ingin melepaskan jiwanya dari perasaan keimanan dengan hatinya, sesuai dengan nasibnya di dunia ini. Dia tidak mempersiapkan sesuatupun untuk akhirat. Demikianlah manusia ditipu oleh jiwa dan hawa nafsunya. Dia memperkenankan panggilan yang sebenarnya, kecuali apa yang sesuai dengan nafsunya itu.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati) sebagaimana manusia, Dia menciptakan manusia dari air mani dan sebagaimana burung yang Dia ciptakan dari telur (dan mengeluarkan yang mati) yaitu air mani dan telur (dari yang hidup dan menghidupkan bumi) dengan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan (sesudah matinya) sesudah kering. (Dan seperti itulah) dengan cara itulah (kalian akan dikeluarkan) dari kubur.
««•»»
He brings forth the living from the dead, as in the case of the human being [who is produced] from a sperm-drop and a bird from an egg, and He brings forth the dead, a sperm-drop or an egg, from the living, and He revives the earth, with vegetation, after it has died, dried out. And in such [a manner], of being brought forth, you shall be brought forth, from the graves (read [either as] the active takhrujūna, ‘you shall come forth’, or the passive tukhrajūna, ‘you shall be brought forth’).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 18][AYAT 20]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
19of60
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=30&tAyahNo=19&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#30:19

[030] Ar Ruum Ayat 018

««•»»
Surah Ar Ruum 18

وَلَهُ الحَمدُ فِي السَّماواتِ وَالأَرضِ وَعَشِيًّا وَحينَ تُظهِرونَ
««•»»
walahu alhamdu fii alssamaawaati waal-ardhi wa'asyiyyan wahiina tuzhhiruuna
««•»»
Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur {1168}.
{1168} Maksud bertasbih dalam ayat 17 ialah bersembahyang. ayat-ayat 17 dan 18 menerangkan tentang waktu sembahyang yang lima.
««•»»
To Him belongs all praise in the heavens and the earth, at nightfall and when you enter noontime.
««•»»

Dalam kedua ayat ini Allah memberi petunjuk kepada kaum mukmin untuk melepaskan mereka dari azab neraka dan memasukkau mereka ke dalam surga, yaitu dengan mensucikan-Nya dari segala sifat yang tidak layak. bagi-Nya, memuji dan memuja-Nya serta menyebut nama-Nya dengan segala sifat-sifat yang baik dan terpuji. Seakan-akan Allah SWT berkata: Jika kamu telah mengetahui dengan pasti nasib kedua golongan itu, maka sucikanlah Dia di waktu malam dan siang, di waktu petang dan pagi. Puji dan sucikanlah Tuhanmu dalam setiap waktu itu dengan hal-hal yang sesuai bagi-Nya.

Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tasbih (mensucikan Tuhan) di sini, ialah salat lima waktu diwajibkan kepada kaum Muslimin. Lalu orang bertanya: "Dan lafaz apakah dipahamkan salat yang lima waktu itu?. Jawabnya ialah perkataan: "Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di malam hari, maksudnya ialah salat Magrib dan Isyak". Perkataan: "dan di waktu kamu berada di waktu Subuh", maksudnya salat subuh. Perkataan: "dan di waktu kamu berada pada petang hari", maksudnya ialah salat Asar. Dan perkataan: "dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur". yaitu salat Zuhur.

Tetapi Pahhak, Said bin Jabir, Ibnu Abbas dan Qatadah berpendapat bahwa kedua ayat tersebut di atas hanya merupakan isyarat akan empat salat yaitu salat mahrib, subuh. asar dan zuhur. Sedangkan salat isya' (yang terakhir) tersebut pada ayat yang lain,

Allah berfirman:
وزلفا من الليل
Dan pada bagian permulaan dari pada malam.
(QS. Huud [11]:114)

Dan waktu mendirikan salat Isya' ini juga terdapat dalam ayat lain, yang menyebutkan waktu-waktu terlarang (waktu-waktu salat).

Allah SWT berfirman:
ومن بعد صلاة العشاء
Dan sesudah salat Isya.
(QS. An Nuur [24]:58)

An-Nahhas seorang ahli tafsir juga berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut di atas berkenaan dengan salat-salat yang lima. Beliau menunjang pendapat Ali bin Sulaiman yang berkata bahwa ayat itu ialah bertasbih kepada Allah SWT dalam salat, sebab tasbih itu ada dalam salat-salat tersebut.

Marudi juga berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tasbih ialah salat. Adapun mengenai penamaan salat dengan tasbih berasal dari dua segi. Pertama karena dalam salat disebutkan tasbih itu berasal dari kata "sabhah" yang berarti salat.

Nabi bersabda:
تكون لهم سبحة يوم القيامة
Bagi mereka ada salat pada hari kiamat.
(Tafsir Qurtubi Jilid 14 hal. 15)

Iman Razi berpendapat bahwa tasbih itu berarti "penyucian". Arti yang diberikan beliau ini adalah lebih kuat dan lebih utama, sebab dalam penyucian itu termasuk salat. Penyucian yang disuruh ialah:
  1. Pensucian hati, yaitu iktikad yang teguh.
  2. Penyucian lidah beserta hati, yaitu mengatakan yang baik-baik.
  3. Penyucian anggota tubuh beserta hati dan lidah , yaitu mengerjakan yang baik-baik (amal saleh).
Penyucian pertama di atas ialah pokok, sedang yang kedua adalah hasil yang pertama, dan ketiga adalah hasil dari yang kedua. Sebab seorang manusia mempunyai iktikad yang baik yang timbul dari hatinya, hal itu tercermin dari tutur yang baik yang timbul dari hatinya, hal itu tercermin dari tutur katanya. Apabila dia berkata maka kebenaran perkataannya itu akan jelas dalam tingkah laku dan segala perbuatannya. Lidah adalah terjemahan dari hati. dan perbuatan anggota tubuh terjemahan pula dari hati, dan perbuatan anggota tubuh merupakan terjemahan pula dari apa yang telah dikatakan lisan. Tetapi salat adalah perbuatan anggota tubuh yang paling baik, termasuk dalamnya menyebut Tuhan dengan lisan, dan niat dengan hati, dan itulah pembersihan yang sebetulnya. Apabila Tuhan berkata agar Dia disucikan (atau dibersihkan) maka wajib bagi kaum Muslimin untuk melaksanakan segala yang dianggap pantas untuk membersihkannya.

Suruhan menyucikan Allah SWT itu tak lain dari pada suruhan melaksanakan salat.

Pendapat ini sesuai dengan tafsir ayat 15 di atas. Sebab Allah SWT menerangkan bahwa kedudukan yang tinggi dan pahala yang paling sempurna akan diperoleh orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

Allah SWT berfirman:
فأما الذين آمنوا وعملوا الصالحات فهم في روضة يحبرون
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira.
(QS. Ar Ruum [30]:15)

Dalam ayat ini Allah SWT berkata: Apabila telah diketahui bahwa surga itu suatu temapt bagi orang-orang yang beramal saleh, maka sucikanlah Tuhan itu dengan iman yang baik dalam hati dan Esakanlah Dia dengan lisan dan beramal salehlah dengan mempergunakan anggota tubuh. Semuanya itu merupakan penyucian dan pemujian. Bertasbihlah kepada Allah SWT agar kegembiraan di surga dan kesenangan yang dicita-citakan itu dapat tercapai.

Ayat "Dan bagi-Nya lah segala puji di langit dan di bumi", adalah kalimat sisipan. Sedangkan sambungan ayat ini merupakan kalanjutan ayat 17 tersebut di atas. Kalimat sisipan itu terletak di antara suruhan agar manusia bertasbih kepada Allah SWT pada waktu-waktu yang ditentukan itu adalah sebagai penegasan bagi manusia bahwa mereka bukan satu-satunya makhluk yang bertasbih kepada Allah, tetapi semua makhluk yang ada di langit dan di bumi juga bertasbih dengan memuji-Nya.

Hal ini jelas kelihatan dari ayat berikut ini:
وإن من شيء إلا يسبح بحمده ولكن لا تفقهون تسبيحهم
Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.
(QS. Al Isra' [17]:44)

Lagi pula dengan adanya kalimat sisipan seakan-akan Tuhan berkata kepada manusia: "Terangkanlah kepada mereka bahwa tasbih mereka itu kepada Allah adalah untuk kemanfaatan mereka seadiri, bukan untuk Allah kemanfaatannya. Karena itu wajiblah atas mereka memuji Allah SWT di kala mereka bertasbih kepada-Nya".

Hat ini telah difirmankan Allah seperti tersebut dalam ayat berikut ini:
يمنون عليك أن أسلموا قل لا تمنوا عليّ إسلامكم بل الله يمن عليكم أن هداكم للإيمان
Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan".
(QS. Al Hujuurat [49]:17)

Para ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa maksud kalimat "Bagi-Nya segala puji "lahul hamd" ialah salat bagi-Nya Allah SWT. Dan ada pula yang berpendapat bahwa pujian-pujian bagi Allah itu adalah satu cara untuk meng Agungkan Allah SWT dan mendorong manusia untuk beribadat kepada-Nya, karena abadinya nikmat-Nya kepada manusia.

Dalam kedua ayat ini, diutamakan menyebut waktu-waktu yang demikian ialah karena timbul tanda-tanda kekuasaan, keagungan dan rahmat Allah pada waktu-waktu tersebut itu. Kemudian malam didahulukan menyebutnya dari pagi, karena menurut kalender Qamariah, malam dan kegelapan itu lebih dahulu dari pagi. Permulaan tanggal itu dimulai setelah terbenam matahari. Demikian pula halnya berkenaan dengan petang dan zuhur, yakni petang lebih dahulu terjadinya dari zuhur menurut kalender Qamariyah itu.

Selanjutnya soal kebaikan dalam ayat-ayat tersebut di atas, ada beberapa hadis yang mengatakan tentang kelebihan yang terkandung dalam kedua ayat tersebut.

Pertama ialah:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ألا أخبركم لِمَ سَمَّى الله تعالى إبراهيم خليله وفيٌّ لأنه يقول كلما أصبح وأمسى فسبحان الله حين تمسون وحين تصبحون وله الحمد في السموات والأرض وعشيا وحين تظهرون.
Rasulullah saw telah bersabda.
"Inginkah kamu aku beritakan kepadamu: "Kenapa Allah SWT menamakan Ibrahim as sebagai Khalil-Nya (teman-NYa) yang setia?. Ialah karena ia membaca di waktu pagi dan petang, bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari di waktu subuh. Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur".
(HR. Imam Ahmad dan Ibnu Jarir)

Seterusnya Nabi bersabda:
من قال حين يصبح: سبحان الله حين تمسون وحين تصبحون إلى قوله تعالى: وكذلك تخرجون. أدرك ما فاته في يومه. ومن قال حين يمسي أدرك ما فاته من ليلته.
Siapa yang mengatakan di waktu pagi:
سبحان الله
hingga firman Tuhan
وكذلك تخرجون
maka dia akan mendapatkan pahala dari apa yang tidak dapat dikerjakannya pada siang hari itu. Dan siapa yang mengatakan di waktu petang, maka ia akan mendapatkan pahala dari yang tidak dapat dikerjakan di waktu malamnya.
(HR. Abu Daud dan Tabrani)

Dari kedua hadis tersebut di atas dapat diambil kesimpulan betapa pentingnya ayat-ayat 17 -18 di atas untuk dicamkan dan diamalkan oleh kaum Muslimin.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi) kalimat ayat ini merupakan jumlah i`tiradh, maksudnya Dia dipuji oleh penduduk langit dan bumi (dan di waktu kalian berada pada petang hari) diathafkan kepada lafal hiina yang ada pada ayat sebelumnya; di dalam waktu ini terdapat salat Isyak (dan sewaktu kalian berada di waktu Zuhur) yakni di waktu kalian memasuki tengah hari, yang pada waktu itu terdapat salat Zuhur.
««•»»
And to Him belongs [all] praise in the heavens and the earth — a parenthetical statement, in other words, the inhabitants in both of these [realms] praise Him — and as the sun declines (wa-‘ashiyyan is a supplement to hīna, ‘when’ [of the previous verse]), in which comes the afternoon prayer (‘asr), and when you enter noontime, in which comes the midday prayer (zuhr).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 17][AYAT 19]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
18of60
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=30&tAyahNo=18&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#30:18